Mengenai Saya

Foto Saya
Contact us: Phone : (0361) 8586335/082 340 230 738 Email : tude664@yahoo.com/div.komp@yahoo.com (on line)

Kamis, 26 April 2012

Meyakini Keberadaan Tuhan Berdasarkan Pengetahuan Hindu

Om Swastyastu, semoga tiada halangan atas anugrah Hyang Widhi.
Kali ini saya coba memuat dan dan berbagi melepaskan kebingungan orang-orang yang tak pernah meyakini Tuhan berdasarkan sastra. Mengapa harus sastra ?...karena bagi orang awam sastra adalah sesuatu pemahaman yang kongkret yang ditulis oleh para Resi yang terdahulu yang tingkat kesucia tapanya tinggi  lewat pengalaman spiritualnya tentang kenyataan Tuhan itu ada. Beliau mampu memberikan sumbangan ilmu baru baru dalam Weda, yang mustahil dilakukan oleh orang spiritual zaman sekarang. Hendaknya kita berpegang teguh dengan sastra, Bhagawan Gita menyebutkan memulaikan Tuhan tanpa disertai ilmu pengetahuan dan hanya menduga-duga tapa bhaktinya akan sia-sia karena kurangnya pemahaman. Dalam ajaran Hindu hal yang paling pokok di tanamkan dengan sastra meyakini keberadaan Hyang Widhi adalah lewat ajaran Panca Srada, apa itu Panca Srada...???????

PANCA SRADHA
Bila dijabarkan menurut katanya,panca dapat diartikan lima dan sradha dapat diartikan keimanan atau kepercayaan. Jadi Panca Sradha adalah lima dasar kepercayaan atau keyakinan Agama Hindu yang harus dipegang teguh dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat demi mencapai tujuan hidupnya di dunia dan sesudahnya.
Bagian-bagian Panca Sradha :
  • Percaya dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi (Widhi Sradha)
  • Percaya dengan adanya Atma (Atma Sradha)
  • Percaya dengan adanya Karma Phala (Karmaphala Sradha)
  • Percaya dengan adanya Punarbhawa atau Samsara (Punarbhawa Sradha)
  • Percaya dengan adanya Moksa (Moksa Sradha)
Penjelasan Bagian Panca Sradha :
1. Widhi Sradha
Widhi Sradha adalah keyakinan atau kepercayaan tentang kebenaran adanya Ida Sang Hyang Widhi.
Keyakinan tentang kebenaran adanya Ida Sang Hyang Widhi dapat dilakukan melalui ajaran Tri Pramana yaitu Agama (Sabda) Pramana, Anumana Pramana, dan Pratyaksa Pramana.
Dalam ajaran Agama (Sabda) Pramana,seseorang meyakini keberadaan Tuhan melalui kesaksian atau sabda Beliau yang disampaikan melalui kitab suci Weda,yang dianugrahkan kepada para Maharsi, para Yogi dan para orang bijaksana.
Dalam Anumana Pramana, sesesorang meyakini keberadaan Tuhan melalui analisis yang logis dan sistematis terhadap apa yang ada di alam semesta ini,ajaran ini menekankan bahwa setiap yang ada di alam semesta ini beserta kejadian-kejadiannya adalah ciptaan dan kehendak Beliau,Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Sedangkan untuk Pratyaksa Pramana, seseorang meyakini keberadaan Tuhan karena seseorang tersebut dapat mengalami langsung, melihat Tuhan/ Manifestasinya tanpa media atau perantara. Hal ini dapat dialami bagi orang-orang yang memiliki tingkat kesucian yang tinggi,seperti para Maha Rsi.
Ajaran Widhi Sradha juga dapat diterapkan dalam ajaran Cadhu Sakti. Sang Hyang Widhi mempunyai empat sifat ke-Mahakuasaan yang disebut Cadhu Sakti yang terdiri dari :
1. Wibhu Sakti yaitu sifat Yang Maha Ada
2. Prabhu Sakti yaitu sifat Yang Maha Kuasa
3. Jnana Sakti yaitu sifat Yang Maha Tahu
4. Krya Sakti yaitu sifat Yang Maha Karya
Selain ajaran tersebut, keberadaan Sang Hyang Widhi juga dapat dijelaskan oleh keberadaan Dewa dan Awatara. Dewa dalam ajaran Hindu dapat diartikan sebagai sinar suci dari Sang Hyang Widhi, sedangkan Awatara dapat diartikan penjelmaan Tuhan/Dewa ke dunia dalam upaya untuk mencapai kemakmuran dan keselamatan dunia. Dalam kitab Reg Weda VIII. 57.2 dan kitab Brhadaranyaka Upanisad 111.9.1 dijelaskan bahwa seluruh Dewa itu berjumlah 33,menguasai Tri Bhuwana (Bhur,Bhuwah,Swah loka).Seluruh Dewa terdiri dari 8 Vasu (Astavasu), 11 Rudra (EkadasaRudra), 12 Aditya (Dwadasaditya),serta Indra dan Prajapati. Sedangkan untuk Awatara terdapat sepuluh awatara Wisnu yang terdiri dari : Matsya, Kurma, Waraha, Narasimha, Wamana, ParasuRama, Rama, Krishna,Buddha, dan Kalki Awatara.
Dalam ajaran Hindu, Brahman dapat diwujudkan dalam dua sifat yaitu Saguna Brahman (Apara Brahman) dan Nirguna Brahman (Para Brahman). Saguna Brahman adalah Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai pribadi dan dibayangkan dalam wujud yang Maha Agung oleh alam pikiran manusia secara empiris. Sedangkan Nirguna Brahman adalah Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan yang tidak terkondisikan dan tanpa sifat,tidak dapat dipikirkan karena ada di luar batas pikiran manusia.
Demikianlah beberapa pernyataan yang menekankan bahwa Ida Sang Hyang Widhi memang benar-benar ada dan kita sebagai umat Hindu wajib meyakini ajaran Widhi Sradha tersebut.
2. Atma Sradha
Atma Sradha adalah keyakinan tentang kebenaran adanya Atman. Dalam kitab Upanisad disebutkan bahwa “Brahman Atman Aikyam” yang artinya Brahman dan Atman itu adalah tunggal. Oleh karena itu, jelaslah Atma dapat diartikan percikan kecil dari Ida Sang Hyang Widhi yang ada di dalam setiap tubuh mahluk hidup. Ida Sang Hyang Widhi sebagai sumber dari atma itu maka Beliau disebut Parama Atma, dan sebagai intisari dari alam semesta ini disebut Adyatman.
a. Atma dan Roh
Dalam tubuh manusia percikan-percikan kecil dari Ida Sang Hyang Widhi disebut Atman,kalau Atma yang menghidupi hewan/binatang disebut   Janggama,sedangkan yang menghidupi tumbuhan disebut Sthawana. Jadi fungsi atma merupakan sumber hidup dari segala mahluk hidup.
Sifat-sifat atma :
  1. Antarjyotih = maha sempurna sesempurna-sempurnanya
  2. Achodya = tak terlukai oleh senjata
  3. Adahya = tak terbakar oleh api
  4. Akledya = tak terkeringkan oleh angin
  5. Acesyah = tak terbasahi oleh air
  6. Nitya = kekal abadi
  7. Sarwagatah = ada di mana – mana
  8. Sthanu = tak berpindah – pindah
  9. Acala = tak bergerak
  10. Sanatana = selalu dalam keadaan sama
  11. Awyakta = tak dilahirkan
  12. Achintya = tak terpikirkan
  13. Awikara = tak berubah -ubah
Roh diartikan sebagai suksma sarira atau badan halus yang membungkus jiwatman orang yang telah meninggal. Roh inilah yan nantinya akan mengalami Punarbhawa atau kelahiran yang berulang-ulang.
b. Tri Sarira
Tri Sarira artinya tiga lapisan badan. Yang terdiri dari :
-         Stula Sarira (badan kasar)
Stula Sarira terdiri dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta yaitu
  • Akasa : ether
  • Bayu : nafas
  • Teja : panas badan, cahaya badan, cahaya mata
  • Apah : darah, lemak, kelenjar-kelenjar air badan
  • Pertiwi : daging, tulang belulang
Setelah meninggal unsur-unsur Panca Maha Bhuta akan berubah menjadi unsur-unsur Panca Tan Matra yakni :
  • Sabda Tan Matra : benih suara asal mula dari Akasa
  • Sparsa Tan Matra : benih rasa sentuhan asal mula dari Bayu
  • Rupa Tan Matra : benih penglihatan asal mula dari Teja
  • Rasa Tan Matra : benih rasa asal mula dari Apah
  • Gandha Tan Matra : benih penciuman asal mula dari Pertiwi
Watak manusia dibentuk oleh unsur Citta, Budhi dan Ahamkara dan indera manusia dibentuk oleh unsur Daseindria.
-         Suksma Sarira (badan halus/ roh)
Pada saat kita masih hidup atau sedang bermimpi yang merasakan segala perasaan sakit,sedih, senang ataupun gembira adalah badan halus ini.
-         Antakarana Sarira (badan penyebab)
Badan inilah yang dapat menyebabkan kita bisa beraktivitas, jadi bisa dikatakan bahwa Antakarana Sarira ini adalah jiwatman. Oleh karena itu jiwatman berfungsi sebagai sumber hidup.
Dari penjabaran di atas bahwa keberadaan atman memang benar adanya, manusia dan mahluk hidup lainnya tak akan dapat hidup bila tidak ada atman yang ada di dalam dirinya.
3. Karma Phala Sradha
Karma Phala Sradha adalah keyakinan tentang kebenaran adanya karma phala atau hasil perbuatan. Setiap perbuatan baik (susila) atau perbuatan buruk (asusila) yang kita lakukan pastinya nanti akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita perbuat, perbuatan baik yang kita tanam maka hasil yang kita petik pun adalah hasil yang baik pula begitu juga sebaliknya. Karma phala inilah yang akan membawa roh kita setelah meninggal akan mendapatkan tempat yang bagaimana. Sang Hyang Yamadipati sebagai Dewa Dharma tentunya akan mengadili setiap manusia sesuai dengan perbuatannya selama masih hidup di dunia, apakah akan mendapat sorga atau neraka.
Tetapi sebagai umat Hindu tujuan kita yang utama adalah Moksa bukan sorga ataupun neraka, karena jika kita mendapat sorga atau neraka kita akan dilahirkan kembali di dunia tetapi jika kita bisa mencapai moksa kita akan mengalami kebahagiaan yang tertinggi karena atma kita telah bersatu dengan Brahman/ Ida Sang Hyang Widhi. Ada cara untuk membebaskan diri dari hukum karma yang terlalu mengikat diri kita oleh ikatan duniawi yaitu dengan cara mengubah perbuatan dan hasilnya menjadi yoga, mengubah perbuatan dan hasilnya menjadi yoga maksudnya segala perbutan dan hasil yang kita lakukan dan kita peroleh wajib dipersembahkan dahulu kepada Ida Sang Hyang Widhi,karena kita yakin semua yang ada dan akan ada berasal dari Ida Sang Hyang Widhi.
Pembagian Karma Phala :
1. Sancita Karma Phala yaitu phala dari perbuatan kita yang terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih-benih yang menentukan kehidupan kita yang sekarang
2. Prarabda Karma Phala yaitu phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya
3. Kriyamana Karma Phala yaitu hasil perbuatan yang tidak sempat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang
4. Punarbhawa Sradha
Punarbhawa Sradha adalah keyakinan tentang kebenaran adanya kelahiran yang berulang-ulang. Ditinjau dari katanya punar berarti musnah atau hilang, sedangkan bhawa berarti tumbuh atau lahir jadi punarbhawa berarti lahir berulang-ulang/reinkarnasi/penitisan kembali/ samsara.
Kelahiran ini disebabkan oleh karma di masa kelahiran yang lampau. Jangka pembatasan dari samsara tergantung dari perbuatan baik kita di masa lampau (atita), yang akan datang (nagata) dan yang sekarang (wartamana).Adapun Punarbhawa tersebut merupakan suatu penderitaan yang diakibatkan oleh karma wesana dari kehidupan kita yang silih berganti. Tetapi janganlah memandang punarbhawa tersebut adalah negatif, karena melalui punarbhawa lah kita akan memperbaiki diri demi tercapainya tujuan kesempunaan hidup yang kita inginkan.
5. Moksa Sradha
Moksa Sradha adalah keyakinan tentang kebenaran adanya moksa. Moksa berasal dari bahasa Sansekerta  yaitu muks yang artinya bebas dari ikatan duniawi dimana jiwatman telah bebas dari siklus kelahiran dan kematian. Moksa inilah yang menjadi tujuan terakhir bagi umat Hindu. Moksa dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu :
  1. Samipya : suatu kebebasan yang dicapai oleh seseorang semasa hidupnya di dunia
  2. Sarupya (Sadharmya) : suatu kebebasan yang di dapat oleh sesesorang di dunia ini, karena kelahirannya, dimana kedududkan Atman merupakan suatu pancaran dari ke-Maha Kuasaan Tuhan
  3. Salokya : suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh Atman, di mana Atman itu sendiri telah mencapai kesadaran yang sama dengan Tuhan.
  4. Sayujya : suatu tingkatan kebebasan yang tertinggi, di mana Atman telah benar-benar bersatu dengan Brahman
Istilah lain yang digunakan untuk mendefinisikan tingkatan moksa yaitu:
  1. Jiwa Mukti : suatu kebebasan yang dicapai oleh seseorang semasa hidupnya di dunia,dimana atman tidak terpengaruh lagi oleh unsur-unsur maya. Jiwa mukti sama sifatnya dengan samipya dan sarupya.
  2. Wideha Mukti (karma mukti) : suatu kebebasan yang dapat dicapai semasa hidup, dimana Atman telah dapat meninggalkan badan kasar, dan kesadarannya setaraf dengan Dewa, tetapi belum benar-benar bersatu dengan Tuhan karena masih ada sedikit imbas dari unsur maya yang mengikatnya. Wideha Mukti sama sifatnya dengan Salokya
  3. Purna Mukti : kebebasan yang paling sempurna dan yang paling tertinggi, dimana Atman telah bersatu dengan Tuhan. Purna Mukti sama dengan Sayujya.
Jalan menuju moksa :
Catur marga artinya empat jalan atau cara untuk menghubungkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa yaitu :
  1. Bhakti Marga
Bhakti marga adalah suatu cara atau jalan untuk menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi , beserta manifestasinya, dengan cara sujud bhakti, menyucikan pikiran,  mengagungkan kebesaran-Nya dan menghindari diri dari segala perbuatan tercela. Bhakti dibagi atas dua tingkat, yaitu :
a. Apara bhakti
b. Para bhakti
Apara bhakti ialah cinta kasih yang perwujudannya masih lebih rendah dan dipraktekkan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kesucian yang tinggi .
Para bhakti ialah cinta kasih dalam perwujudannya yang lebih tinggi dan bisa dipraktekkan oleh orang yang jnananya tinggi dan kesuciannya sudah meningkat .
Bhakti marga adalah berupa penyerahan diri secara bulat kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan perasaan cinta kasih dan ketulusan. Istilah untuk orang yang melaksanakan ajaran Bhakti marga adalah Bhakta.
2. Karma Marga
Karma marga adalah cara/jalan untuk mencapai moksa dengan cara pengabdian atau kerja tanpa pamrih. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap manusia yang hidup di dunia ini dan yang ingin mencapai suatu kebebasan yang tertinggi, manusia tersebut seharusnya melakukan kegiatan/kerja yang didasari dengan perasaan tulus ikhlas tanpa mengikatkan diri pada hasilnya. Istrilah untuk orang yang melaksanakan ajaran Karma marga adalah Karmin.
3. Jnana Marga
Jnana marga adalah cara/jalan untuk mencapai moksa dengan ilmu pengetahuan, unsur kebijaksanaan sangat ditekankan dalam ajaran ini. Seseorang yang menganut ajaran jnana marga harus dapat membedakan mana sebaiknya yang harus dipikirkan demi tercapainya suatu kekekalan yang abadi (moksa). Istilah untuk orang yang menganut ajaran Jnana marga dapat pula disebut Jnanin.
4. Raja marga
Raja marga adalah cara/jalan untuk mencapai moksa dengan jalan melakukan tahapan-tahapan astangga yoga yang intinya adalah pengendalian diri dan pikiran secara berkelanjutan. Delapan tahapan yang harus dilalui dalam melakukan yoga/meditasi yang diajarkan oleh Bhagawan Patanjali yang lebih dikenal Astangga Yoga terdiri dari :
  • Yama         : pengendalian diri tahap pertama
  • Nyama       : pengendalian diri tahap lanjut
  • Asana        : mengatur sikap badan
  • Pranayama  : sikap mengatur nafas
  • Pratyahara   : sikap pemusatan indria
  • Dharana     : sikap pemusatan pikiran
  • Dhyana      : sikap pemusatan pikiran yang terpusat
  • Semadi       : meditasi tahap tinggi/penunggalan Atman dengan   Brahman
Selain empat jalan tersebut terdapat empat tujuan hidup yang dijalankan oleh ajaran Hindu yang diberi istilah Catur Purusa Artha yaitu Dharma, Artha, Kama,dan Moksa. Selain menjadi tujuan, Catur Purusa Artha merupakan cara/jalan untuk mencapai moksa itu sendiri.
Moksa juga dapat dibedakan lagi menjadi tiga jenis, menurut kebebasan yang dicapai oleh Atma yakni :
  1. Moksa yaitu kebebasan yang dicapai oleh seseorang tetapi masih meninggalkan bekas berupa badan kasar
  2. Adi moksa yaitu kebebasan yang dicapai oleh seseorang dengan meninggalkan bekas berupa abu
  3. Parama moksa yaitu kebebasan yang dicapai oleh seseorang tanpa meninggalkan bekas
Dari penerangan di atas, diterangkan bahwa moksa dan cara untuk mencapai moksa itu adalah benar keberadaannya. Kita sebagai umat Hindu wajib mempercayainya karena itu merupakan tujuan hidup kita yang terakhir.

Selasa, 24 April 2012

Warige Merupakan Astronomi dan Feng Shui Ala Bali


Om Swastiastu, Om Awighnamastu Namo Siddham.
Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf sebesar - besarnya ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi - Tuhan Yang Maha Esa serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka.
Wariga adalah pengetahuan yang sangat terkenal di masyarakat. Para petani mempelajari wariga untuk mencari masa bercocok tanam. Para pedagang mempelajarinya untuk mencari hari baik mulai berdagang, membuat alat perdagangan dan berbagai bentuk keberuntungan. Para pendeta (Brahmana) mempelajari wariga, untuk menentukan saat-saat berupacara. Oleh karena itu, wariga merupakan pengetahuan yang sangat populer.
Pada susunan Wedangga (batang tubuh Weda), wariga disebut dengan “jyotisha”, ilmu tentang cahaya atau perbintangan (jyotir). Dengan demikian, jyotisha diletakkan sebagai mata dari weda-weda. Jika orang tidak mengetahui jyotisha, mereka tidak akan bisa pergi ke mana-mana sebab tidak memiliki mata. Pernyataan ini menunjukkan bahwa “jyotisha” memegang peranan penting dalam weda-weda, sama seperti di Bali.
Pada bagian dari wariga terdapat juga tenung-tenung (ramalan). Ramalan tersebut ditentukan berdasarkan wawaran, wuku dan sasih. Ramalan-ramalan berisi tentang jodoh, rejeki dan yang lainnya. Tenung-tenung ini dibedakan menjadi empat jenis (Aryana:2009:10) yaitu tenung pengalihan (menggabungkan urip wawaran), tenung jejinahan (menggunakan uang), tenung palelintangan (menggunakan lintang tertentu, misalnya lintang tangis) dan tenung campuran (menggunakan campuran dari teknik-teknik yang ada).
Secara garis besar, wariga sebenarnya terdiri dari berbagai bagian. Bagian-bagian tersebut adalah:
  1. Pawintangan (ilmu tentang perbintangan). Perbintangan biasanya digunakan untuk mencari hari-hari bercocok tanam. Berdasarkan wawaran (pancawara dan saptawara) terdapat 35 palalintangan atau gugusan bintang. Berdasarkan lontar Namaning Wintang terdapat 27 gugusan bintang, seperti Naksatra dalam Jyotisha (Lontar Namaning Wintang:Lembar I).
  2. Sasih adalah ilmu tentang musim dan peredaran gerak semu matahari mengelilingi bumi dan bulan mengelilingi bumi. Ilmu ini biasanya digunakan untuk mencari masa bercocok tanam dan bulan-bulan yang baik untuk melakukan upacara tertentu. Sasih ini terdiri dari 12 sasih dalam satu tahun, tetapi kurang lebih setiap tiga tahun sekali terjadi penambahan sasih (bulan ke-13), untuk menyesuaikan tahun bulan dengan musim (tahun matahari). Pada satu sasih terdiri dari 30/29 hari (tithi), terbagi menjadi dua bagian yaitu suklapaksa (pananggal, paro terang) yaitu tithi setelah tilem menuju purnama, serta kresnapaksa (panglong, paro gelap) yaitu tithi setelah purnama menuju tilem. Jika satu sasih berumur 29 berarti terjadi pangalihan pada bulan tersebut. Pangalihan tersebut terjadi setiap 63 hari sekali atau setiap sembilan wuku sekali mengikuti rumus Eka Sungsang, Dwi Tambir, Tri Kulawu, Catur Wariga, Panca Pahang, Sad Bala, Sapta Kulantir, Nawa Uye dan Dasa Shinta.
  3. Wuku adalah ilmu tentang ruas-ruas kumpulan bintang tertentu yang berporos dari bumi. Wuku berjumlah 30 dari Shinta – Watugunung. Setiap wuku berumur tujuh hari mulai dari redite (minggu) sampai saniscara (sabtu). Ilmu ini biasanya digunakan untuk menentukan saat-saat bercocok tanam, upacara dan hari-hari baik. Wuku berarti ruas, yang bisa dikonotasikan sebagai ruas-ruas jajaran bintang.
  4. Wawaran adalah ilmu tentang nama-nama hari yang mana setiap hari memiliki sepuluh nama (dasa nama) yang diwujudkan dengan Eka Wara sampai Dasa Wara. Wawaran biasanya digunakan untuk bercocok tanam, upacara tertentu dan hari-hari baik. Satu wawaran merupakan satu hari yang mulai dari matahari terbit sampai matahari terbit (pagi sampai pagi).
  5. Dadauhan adalah ilmu tentang pembagian waktu selama satu hari. Masyarakat Bali mengenal pembagian waktu dalam lima pembagian siang dan malam (24/10) yang disebut dengan Panca Dauh dan delapan pembagian siang dan malam (24/16), yang disebut dengan Asta Dauh. Dauh ini biasanya digunakan untuk mencari saat menanam, bepergian dan melaksanakan upacara tertentu. 
Dalam mencari hari-hari yang terbaik, ahli wariga biasanya menggunakan gabungan dari kelima unsur tersebut. Tetapi terdapat juga rumus sebagai berikut:
wawaran alah dening wuku, wuku alah dening tanggal/panglong, tanggal/panglong alah dening sasih, sasih alah dening dauh, dauh alah dening wetu, wetu alah dening Sang Hyang Tri Dasa Sakti (Namayudha:1993:35).
Semua itu artinya adalah bahwa wawaran bisa diabaikan karena wuku menyatakan saat itu baik, wuku biasa diabaikan karena tithi (tanggal-panglong) menyatakan itu baik, tithi bisa diabaikan karena sasih menyatakan saat itu adalah saat yang baik, sasih juga biasa diabaikan karena dauh menyatakan itu adalah saat yang baik serta dauh juga bisa diabaikan karena sesuatu itu memang harus terjadi pada saat itu.
Dari beberapa pengetahuan tentang wariga tersebut terdapat beberapa pelajaran-pelajaran yang berharga untuk perkembangan manusia. Pelajaran-pelajaran tersebut merupakan pokok-pokok filsafat kehidupan yang bisa digunakan untuk menuntun orang mencapai pembebasan. Ajaran-ajaran tersebut adalah kosmologi yaitu ilmu tentang kesemestaan, ontologi yaitu ilmu tentang esensi kehidupan dalam hubungannya dengan Tuhan dan etik yaitu tuntunan prilaku yang mengatur kehidupan manusia.
1.Kosmologi
Kosmologi adalah ilmu pengetahuan tentang alam semesta (Donder:2007:1). Dalam hinduisme, sumber utama kosmologi Hindu adalah Rig Veda 10.129 yang berisi lagu tentang penciptaan yang disebut dengan nâsadâsìya (Bowker:1997). Lagu tentang penciptaan itu berisi kisah sebelum ada apa-apa, Tuhan muncul dengan sendirinya kemudian menciptakan dunia ini. Kosmologi ini serupa dengan kosmologi yang terlihat pada pemaparan tentang mitologi wawaran. Berdasarkan Lontar Medangkumulan dan Lontar Bagawan Garga (Namayudha:1993:36) disebutkan, pada awalnya sebelum ada apapun, sinar suci  melayang-layang. Sinar suci ini disebut sebagai guru sejati yang disebut Sang Hyang Licin. Beliau memiliki wujud sangat gaib dan suci. Beliau memiliki wujud bermacam-macam di dunia ini, seperti Sang Hyang Tuduh. Semua itu adalah beliau yang suci, yang ada pertamakali tanpa ayah dan ibu.
Sang Hyang Licin bertapa melahirkan positif dan negatif. Wujud keduanya adalah tunggal, yaitu Sang Hyang Kala yang berwujud dua yaitu Sang Hyang Rahu dan Sang Hyang Ketu. Sang Hyang Rahu menciptakan para kala dan Sang Hyang Ketu menciptakan para dewa dan wawaran. Kutipan lontar Bagawan Garga tersebut adalah sebagai berikut (Namayudha:1993:37):
Hana ta dewa anglayang, guru tunggal, ingaranan sang hyang licin, suksma nirmala, endah stananya maring sunya, pantaranya rumawak tuduh, ya ta sang hyang licin, rumaga rama tan sahayebu, mayoga sang hyang licin, hana bagawan bhregu, mayoga bhagawan bhregu hana rwa mimitan, nga, rahayu mimitan, kala mimitan, rupanya kadi tunggal, nga, dewa kala, rahu mawak ketu lwirnya: sang hyang rahu angadakna, kala kabeh, sang hyang ketu ika hamijil kna dewa kabeh, mwang wawaran.
Mitologi kelahiran wawaran ini mengajarkan sesuatu tentang proses penciptaan. Sang Hyang Licin merupakan Tuhan yang ada dengan sendirinya yang dalam weda-weda disebut dengan Swayambu. Sang Hyang Licin bertapa, mengkonsentrasikan diriNya sehingga lahirlah Bhagawan Bhregu yang menjadi ayah daripada para rahu dan ketu. Rahu adalah ayah daripada para kala dan ketu adalah ayah daripada para dewa. Keduanya adalah siang dan malam yang melahirkan kehidupan.
Pada fase berikutnya Lontar Bhagawan Garga (Namayudha:1993:39) menceritakan tentang peperangan antara para kala dan dewa ini. Pertarungan ini menghasilkan urip (kekuatan) dari setiap wawaran. Kekuatan ini menimbulkan berbagai ketidakseimbangan, sehingga terus berperang. Peperangan inilah yang menjadi hari baik dan buruk. Untuk memenangkan kebaikan maka para dewa beryoga menciptakan kondisi yang baik di dunia ini. Dengan demikian, saat-saat dewa beryoga merupakan saat yang stabil, yang bisa digunakan untuk melaksanakan hal-hal tertentu.

Mitologi itu memberikan gambaran kosmologi bahwa semesta tercipta melalui proses pertarungan positif dan negatif (proton dan elektron). Tuhan kemudian beryoga untuk menciptakan kestabilan sehingga terlahirlah kehidupan yang di dalam dirinya juga mengandung positif dan negatif sehingga perlu melakukan yoga untuk menstabilkan dirinya. Dengan demikian, secara makrokosmos dewa-dewa beryoga dan secara mikrokosmos manusiapun harus beryoga untuk menstabilkan dirinya. Kosmologi ini mengajarkan manusia memiliki terminal (tempat pemberhentian) untuk mencapai tujuan akhir. Pemberhentian ini tidak mungkin berada dalam gerakkan bumi atau matahari yang terus berputar. Pemberhentian ini hanya ada pada esensi pikiran yang dalam kosmologi disebut sebagai Sang Hyang Licin.
Kosmologi ini juga mengajarkan bahwa keteraturan semesta tersebut merupakan proses yoga, yaitu hubungan dengan Tuhan (pusat). Apabila yoga para dewa goyah maka akan timbul ketidakteraturan. Karena itu, proses keselamatan alam semesta ini terletak pada yoga. Yoga itu juga merupakan pertemuan. Konsep inilah yang mengajarkan umat Hindu di Bali untuk mencari pertemuan-pertemuan tertentu dalam menentukan dewasa, misalnya pertemuan sukra umanis nuju purnama disebut dengan purnasuka adalah hari baik untuk melakukan segala pekerjaan (Ananda Kusuma:1979:30).
2.Ontologi
Ontologi membicarakan azas-azas rasional dari yang ada, sehingga ontologi berusaha mengetahui esensi dari yang ada (Kattsoff:2004:74). Pada wariga, yang ada tersebut juga diuraikan sebagai Sang Hyang Licin yang menjadikan semuanya. Sang Hyang Licin adalah esensi dari baik dan buruk. Esensi tersebut adalah keadaan beryoga, sehingga untuk menemukan esensi, seseorang harus berada dalam keadaan “yoga”.
Berdasarkan esensi seperti itu maka hari baik selalu dihubungkan dengan kondisi dewa beryoga. Hal ini digambarkan dalam Lontar Mertaning Sasih sebagai berikut:
…..måtta maúa aran iki, ûaúih måtta paktan tenggala, ne kocap ada munggah, ditu ngajak payogan bhâtârra, bilang ng ûaúih ada payogan bhâtârra, bungan ûaúih to adanña (Lontar Mertaning Sasih:I.a).
Kutipan lontar ini mengandung maksud bahwa bulan yang memberikan manfaat yang baik (måtta) adalah saat dewa-dewa beryoga. Pada setiap bulan (ûaúih) terdapat saat-saat seperti itu yang disebut dengan bunganya bulan. Hal ini menunjukkan sebuah esensi daripada hari baik, yaitu keadaan “yoga”. Kondisi yoga dapat digambarkan sebagai kondisi sâmadhi yang seperti digambarkan dalam Yoga Sutra Rsi Patanjali, serta teks-teks lainnya seperti Bhagavad Gita. Kondisi ini adalah ketenangan, kedamaian dan kesantosaan batin. Saat-saat seperti itu adalah saat dimana atman dan brahman mengalami persatuan. Penyatuan ini adalah kembalinya positif dan negatif (rahu dan ketu) pada esensi semula yakni Sang Hyang Licin (Tuhan).
Dengan demikian, esensi dari wariga adalah ketuhanan. Pengetahuan yang terdalam tentang wariga adalah kesadaran tentang ketuhanan. Kesadaran ketuhanan adalah proses pencerahan. Jika orang telah mendapatkan pencerahan maka ia dapat menentukan kebaikan, termasuk hari baik. Karena itu, wariga mengajarkan orang untuk menumbuhkan kebijaksanaan, sehingga bisa menentukan baik dan buruk. Kebijaksanaan ini merupakan penerang dalam perjalanan kehidupan ini. Dengan demikian, pencerahan adalah proses sempurna mencapai moksha (pembebasan).

3.Etika
Etika berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang baik, buruk, kebajikan dan kejahatan. Karena itu, etika adalah pengetahuan tentang norma (Kattsoff:2004:78). Dalam wariga terdapat pelajaran tentang norma-norma yang mesti dilakukan apabila ingin berhasil dalam berbagai pekerjaan. Norma-norma ini berkaitan dengan pengetahuan bahwa setiap hari memiliki unsur baik dan buruk. Pengetahuan seperti ini melahirkan norma bahwa manusia hendaknya senantiasa untuk melakukan “yoga”, berhubungan dengan Tuhan untuk mendapatkan esensi dari segalanya, yaitu kebajikan.
Pergulatan rahu dan ketu merupakan pergulatan abadi, tanpa ada yang menjadi pemenang seperti yang tergambar dalam pertarungan barong dan rangda dalam tradisi di Bali. Tetapi manusia tidak berhenti pada pertarungan. Kalah dan menang dalam pertarungan tidaklah penting. Yang terpenting dari pertarungan tersebut adalah bahwa manusia menemukan esensi dari kehidupan ini yaitu Tuhan. Hal ini melahirkan etika untuk selalu memuja Tuhan untuk mendapatkan kebajikan.
Hal tersebut sejalan dengan Bhagavad Gita yang mengajarkan setiap manusia untuk meneguhkan dirinya dalam yoga seperti bunyi Bhagavad Gita VIII-27 sebagai berikut:
Naite såtì pârtha jânan yogì muhyati kaúcana,
Tasmât sarveûu kâleûu yoga-yukto bhavârjuna
Artinya:
Dengan mengetahui sifat hakiki kedua jalan ini, wahai Pârtha, para yogi tidak pernah bimbang hati, karena itu setiap saat wahai Arjuna teguhkan imanmu dalam ajaran yoga (Pudja:2005:220).
Etika ini mendorong pada pemujaan terhadap Tuhan, karena esensi wariga adalah bahwa dauh alah dening Sang Hyang Tryo Dasa Saksi (Tuhan). Dengan demikian, orang yang selalu berada dalam ketuhanan, sama sekali tidak memerlukan pilihan-pilihan hari. Pilihan-pilihan hari hanya perlu bagi orang-orang yang belum mantap. Pilihan hari yang baik akan mendorong kemantapan seseorang dalam yoga. Bagi orang yang mantap, pilihan hari tersebut tidak perlu sebab ia telah menjadi surya (pencerah) itu sendiri.
4.Menuju Pembebasan
Kosmologi, ontologi dan etika yang terbangun dari wariga mengajarkan manusia untuk dapat memahami asal-usul “terang”. Asal-usulnya berasal dari Tuhan, sehingga manusia dalam proses rwa bhineda (baik dan buruk) diajarkan untuk menaiki jalan-jalan pencerahan. Pertentangan baik dan buruk hendaknya tidak menurunkan derajat kemanusiaan, tetapi menaikkan derajat kemanusiaan. Menaikkan derajat kemanusiaan ini hanya dapat dilakukan dengan “yoga”. Pada konsep wariga, manusia diajarkan untuk mengetahui posisi para dewa melakukan yoga sebab pada posisi tersebut manusia akan terbantu untuk melakukan yoga.
Ketika dewa melakukan yoga maka manusia akan mendapatkan manfaat (måtta). Manfaat tersebut sesungguhnya adalah keabadian. Måtta berasal dari kata Amåta yang berarti abadi. Keabadian adalah kondisi dimana atman bersatu dengan brahman, yaitu menunggalnya pada esensi hari yaitu Sang Hyang Licin. Ajaran ini menunjukkan bahwa wariga menuntun seseorang untuk mencapai pembebasan yang sempurna, yaitu menjadi cerah. Orang yang telah mencapai pencerahan akan selalu berhasil dalam berbagai usahanya sebab sudah tidak terikat lagi pada rahu dan ketu.
Rahu dan ketu berada dalam indrya-indrya atau hanya dapat dirasakan oleh Panca Indra. Jika orang telah melampau hal tersebut maka ia telah mencapai keadaan yang sempurna. Bhagavad Gita II.61 menyatakan sebagai berikut:
Tâni sarvâói saýyamya yukta âsìta mat-parah,
Vaúe hi yasyendriyâói tasya prajña pratiûþhitâ
Artinya:
Setelah dapat menguasai semua ini, ia harus duduk memusatkan pikiran pada-Ku, sebab yang dapat mengendalikan panca indryanya dinamakan memiliki kebijaksanaan yang teguh (Pudja:2005:70).
Pertarungan dewa dan kala merupakan proses untuk mengendalikan indrya. Kala senantiasa harus dikendalikan. Kala adalah indrya yang berada dalam diri. Karena itu, pemilihan hari saja tidak cukup, manusia harus mengendalikan dirinya. Wariga juga mengajarkan manusia harus bersabar dalam melakukan sesuatu. Kesabaran tersebut adalah pelajaran pertama dari pengendalian diri. Misalnya perkawinan biasanya dilaksanakan pada bulan ke empat, kelima dan kesepuluh. Setiap orang sebaiknya memilih hari-hari itu. Manusia hendaknya tidak melaksanakan keinginannya sekehendak itu. Hal itulah yang merupakan pelajaran pertama untuk mencapai pembebasan dalam wariga seperti juga dibenarkan oleh Bhagavad Gita.
 
Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.

Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adan inilah agama.

Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.

Masalah wariga dan dewasa mencakup pengertian pemilihan hari dan saat yang baik, ada perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang menyangkut masalah “wewaran, wuku, tanggal, sasih dan dauh” dimana kedudukan masing-masing waktu itu secara relative mempunyai pengaruh .
didalilkan sebagai berikut:

  •  Wewaran                  dikalahkan oleh wuku 
  • Wuku                         dikalahkan oleh tanggal panglong 
  • Tanggal panglong     dikalahkan oleh sasih 
  • Sasih                           dikalahkan oleh dauh 
  • Dauh                           dikalahkan oleh de Ning (keheningan hati).

Untuk dapat memahami hubungan kesemuanya itu perlu mempelajari arti wewaran dan hubungannya dengan alam ghaib.

Wuku
Disamping perhitungan hari berdawarkan wara sistim kalender yang dipergunakan dalam wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memilihi umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite).
1 tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari.
Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut;
Sita, landep, ukir, kilantir, taulu, gumbreg, wariga, warigadean, julungwangi, sungsang, dunggulan, kuningan, langkir, medangsia, pujut, Pahang, krulut, merakih, tambir, medangkungan, matal, uye, menial, prangbakat, bala, ugu, wayang, klawu, dukut dan watugunung.

Wewaran
Wewaran berasal dari kata “wara” yang dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dll. Masa perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya. Siklus ini dikenal misalnya dalam sistim kalender hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut;
  1. Eka wara; luang (tunggal) 
  2. Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup). 
  3. Tri wara; pasah, beteng, kajeng. 
  4. Catur wara; sri (makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah). 
  5. Panca wara; umanis (penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon (pelebur). 
  6. Sad wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk), was (kuat), maulu (membiak). 
  7. Sapta wara; redite (minggu), soma (senin), Anggara (selasa), budha (rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan; mina (ikan), Taru (kayu), sato (binatang), patra ( tumbuhan menjalar), wong (manusia), paksi (burung). 
  8. Asta wara; sri (makmur), indra (indah), guru (tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala (nilai), uma (pemelihara). 
  9. Sanga wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis (sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal), tulus (langsung/lancar), dadi (jadi). 
  10. Dasa wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis), suka (periang), duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa (sosial), eraja (kepemimpinan), dewa (berbudi luhur), raksasa (keras)
Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentuk ukuran baik buruknya suatu hari. Nilai itu disebut “urip” atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus dihafalkan.

Tanggal dan Panglong
Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan panglong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati) dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh).

Sasih
Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. adapun pembagian sasih tersebut adalah;
  • Kedasa                       = Mesa            = Maret – April.
  • Jiyestha           = Wresaba       = April – Mei.
  • Sadha              = Mintuna       = Mei – Juni.
  • Kasa                = Rekata          = Juni– Juli.
  • Karo                = Singa            = Juli –Agustus.
  • Ketiga             = Kania           = Agustus – September.
  • Kapat              = Tula              = September – Oktober.
  • Kelima             = Mercika        = Oktober – November.
  • Kenem             = Danuh          = November – Desember.
  • Kepitu                         = Mekara         = Desember – Januari.
  • Kewulu           = Kumba         = Januari – Februari.
  • Kesanga          = MIna            = Februari – Maret.

Dauh/dedauhan
Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIB). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain;
  • Redite             = Siang; 7.00 – 7.54 dan 10.18 – 12.42,
   malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00 
  • Coma              = Siang; 7.54 – 10.18,
   malam; 24.42 – 3.06 
  • Anggara         = Siang; 10.00 – 11.30 dan 13.00 – 15.06,
   malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00 
  • Buda               = Siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30 – 12.42,
   malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06 
  • Wraspati        = Siang; 5.30 – 7.54 dan 12.42 – 14.30,
   malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30 
  • Sukra              = Siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30,
   malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30 
  • Saniscara        = Siang; 11.30 – 12.42,
   malam; 22.18 – 23.30

1.     BAYI LAHIR
Hari, jam bayi lahir atau orang meninggal dunia. Siang atau malam :
Minggu
Jam, 6-7-11-1-5
Senin
Jam, 8-10-1-3-5
Selasa
Jam, 7-10-12-2-5
Rabu
Jam, 7-9-11-2-4
Kamis
Jam, 8-11-1-3-4
Jumat
Jam, 8-10-12-3-4
Sabtu
Jam, 7-9-12-2-4
Keterangan : Karena pengaruh sesuatu, mungkin lebih atau kurang beberapa menit.

2.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT SAPTAWARA
Minggu
Ø  Tidak baik melakukan pekerjaan yang penting-penting.
Ø  Tidak senang direndahkan
Ø  Suka beramal
Upakara pada hari lahirnya, sajen itu diisi emas (lambang Matahari)
Senin
Ø  Baik bercocok tanam
Ø  Sabar, jujur, dicintai orang
Ø  Bebal menyebabkan sering mendapatkan kesusahan
Upakara pada hari lahirnya, sajen itu diisi perak (lambang Bulan)

Selasa
Ø  Jangan melakukan pekerjaan yang penting-penting, karena dapat menyebabkan kesusahan
Ø  Rajin bekerja yang berat-berat maupun yang ringan-ringan
Upakara pada hari lahirnya, sajen itu diisi gangsa (lambang Api)
Rabu
Ø  Hasil pekerjaan sedang
Ø  Pikirannya baik, sabar, sopan santun, suka menyimpan
Ø  Hatinya agak rusuh
Upakara pada hari lahirnya, sajen itu diisi besi (lambang Tanah)
Kamis
Ø  Baik melakukan segala pekerjaan
Ø  Adil tegas
Ø  Tidak sayang pada miliknya
Upakara pada hari lahirnya, sajen itu diisi perunggu (lambang Guntur)

Jumat
Ø  Baik bercocok tanam, pekerjaan yang lain hasilnya sedikit
Ø  Berlaku susila, suka bertapa
Ø  Malas
Upakara pada hari lahirnya, sajen itu diisi tembaga (lambang Hujan)

Sabtu
Ø  Pekerjaannya baik, tapi harus hati-hati
Ø  Pandai, cerdik dan jadi pelindung
Upakara pada hari lahirnya, sajen itu diisi timah (lambang Angin)

1.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT ASTHAWARA
Shri
Ø  Berhati baik
Ø  Sentosha
Ø  Tidak kekurangan makan dan minum
Indra
Ø  Berhati kurang terang
Ø  Berpangkat
Ø  Beruntung
Guru
Ø  Berhati terang
Ø  Dihormati
Ø  Nasehatnya mendapat perhatian
Yama
Ø  Berhati buruk
Ø  Suka memfitnah
Ø  Suka membuat orang lain susah

Rudra
Ø  Berhati pemarah
Ø  Sering sakit
Brahma
Ø  Berhati sering marah
Ø  Tidak senang kalau orang lain mencela
Kala
Ø  Berhati loba
Ø  Suka melakukan pekerjaan yang menyusahkan


Uma
Ø  Berhati cidra
Ø  Pendiam
Ø  Suka berhati-hati

2.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT SANGAWARA
Dangu
Ø  Bodoh, meskipun rajin belajar
Ø  Sukar menjadi  orang pandai
Ø  Lambangnya Batu
Jangur
Ø  Sombong
Ø  Suka berbuat buruk dan bengis
Ø  Lambangnya Harimau
Gigis
Ø  Suka merendahkan diri
Ø  Suka menerima seadanya
Ø  Lambangnya Tanah

Nohan
Ø  Tenang
Ø  Tidak mau membuat huru hara
Ø  Lambangnya Bulan
Ogan
Ø  Suka kepada milik orang lain
Ø  Kalau bisa mengatasi akan menjadi orang baik-baik
Ø  Lambangnya Ulat
Erangan
Ø  Pandai
Ø  Keinginannya sering tidak tercapai akibat dari hatinya yang suka marah
Ø  Lambangnya Matahari
Urukung
Ø  Cita-citanya jarang tercapai, karena suka marah
Ø  Lambangnya Api
Tulus
Ø  Cita-citanya sering tercapai
Ø  Lambangnya Air
Dadi
Ø  Kehendaknya berhasil
Ø  Beruntung
Ø  Lambangnya Pohon Kayu

3.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT DASHAWARA
Pandita 
 Ø  Suka pada kebersihan 
 Ø  Pandai dan cerdik 
Pati
Ø  Selalu mengalami suka dan duka
Suka
Ø  Sering merasa senang
Dukha
Ø  Sering merasa sedih
Shri
Ø  Suka menolong
Ø  Banyak cintanya
Manuh
Ø  Pendiam
Ø  Suka menurut kata-kata orang lain
Manusa
Ø  Keadaan menderita
Raja
Ø  Mempunyai kemampuan untuk memimpin
Dewa
Ø  Akhli
Ø  Berwibawa
Raksasa
Ø  Sifat loba
Ø  Keras hati

1.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT TRIWARA
Dora (Pasah)
Ø  Berhati gembira
Ø  Suka bercakap
Ø  Suka bepergian
Ø  Suka memperolok-olok kawannya
Pembersihanya mandi dengan 12 mata air

Waya (Beteng)
Ø  Tahu berdoa
Pembersihannya mandi dengan 8 mata air
Byantara (Kajeng)
Ø  Suka menyusahkan diri sendiri
Ø  Suka bercakap
Ø  Royal
Pembersihanya mandi dipinggir sungai dengan 18 mata air

2.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT CATURWARA
Shri
Ø  Suka memuji
Ø  Tenang
Ø  Bersih
Pembersihannya mandi di laut dengan 12 mata air
Laba
Ø  Mempunyai cita-cita yang baik
Ø  Rajin berusaha
Ø  Banyak bicara
Ø  Waspada
Ø  Berlaku susila
Pembersihannya mandi di halaman dengan 1 mata air
Jaya
Ø  Berhati teguh
Ø  Berlaku curang asal berhasil
Ø  Sukar mendapat kesenangan
                        Pembersihannya mandi dengan 12 mata air di tengah-tengah
                        halaman 
Mandala
Ø  Suka bersenang-senang
Ø  Kurang cerdik
Ø  Suka beramal
Ø  Berusia pendek
Pembersihannya mandi dengan 13 mata air di kebon

1.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT PANCAWARA
Umanis
Ø  Tabah bercakap-cakap
Ø  Suka sewenang-wenang
Ø  Royal
Pembersihanya mandi dengan 18 mata air di jalan
Beya pada hari lahirnya :
Di Kemulan :
ü  Penek agung 1, dibawah penek diisi uang 55
ü  Ayam putih di panggang
ü  Buah-buahan 5
ü  Tatebus 5
ü  Porosan 5
Di Balai :
ü  Nasi tumpeng 1 pakon
ü  Ikan babi seharga 55 diolah
ü  Sambel dikukus
        ü  Buah-buahan 5 

Paing
Ø  Rajin
Ø  Sering termenung
Ø  Keras hati
Pembersihanya mandi dengan 12 mata air ditengah-tengah lingkaran api
Beya pada hari lahirnya :
Di Kemulan :
ü  Penek agung 1, dibawah penek diisi uang 99
ü  Ayam merah di panggang
ü  Buah-buahan 9
ü  Tatebus 9
ü  Porosan 9

Di Balai :
ü  Nasi tumpeng 1 pakon
ü  Ikan babi seharga 99 diolah
ü  Sayur kacang kara berbumbu asam
ü  Buah-buahan 9
Pon
Ø  Suka bergurau
Ø  Suka bergaul
Pembersihanya mandi di laut dengan 8 mata air
Beya pada hari lahirnya :
Di Kemulan :
ü  Penek agung 1, dibawah penek diisi uang 77
ü  Ayam putih kuning dengan isinya
ü  Buah-buahan 7
ü  Tatebus 7
ü  Porosan 7

Di Balai :
ü  Nasi tumpeng 1 pakon
ü  Ikan babi seharga 77 diolah
ü  Godoh tumpi 7
ü  Buah-buahan 5
ü  Tatebus 7
ü  Porosan 7
Wage
Ø  Suka berbohong
Ø  Tidak suka merendahkan diri
Ø  Kurang jujur dengan sahabatnya
Ø  Suka bekerja
Pembersihanya mandi di halaman dengan 6 mata air
Beya pada hari lahirnya :
Di Kemulan :
ü  Tumpeng kusuh berpuncak warna hitam, dibawah penek diisi uang 44
ü  Ayam hitam dipanggang
ü  Balung gagending
ü  Buah-buahan 4
ü  Godoh tumpi 4
ü  Tatebus 4
  ü  Porosan 4
Di Balai :
ü  Nasi tumpeng 1 pakon, di atas tumpeng diisi bunga teleng biru
ü  Ikan babi seharga 44 diolah
ü  Telur asin
ü  Sambal tanpa garam di kukus
ü  Udang
ü  Buah-buahan 4
ü  Godoh tumpi 4
ü  Tatebus 4
ü  Porosan 4
Keliwon
Ø  Suka membuat rencana dan bersemangat
Pembersihanya mandi di pinggir sungai dengan 14 mata air
Beya pada hari lahirnya :
Di Kemulan :
ü  Penek agung 1, dibawah penek diisi uang 88
ü  Ayam brumbun di panggang
ü  Ketan
ü  Buah-buahan 8
ü  Godoh tumpi 8
ü  Tatebus 8
ü  Porosan 8
Di Balai :
ü  Nasi tumpeng 1 pakon
ü  Ayam yang sedang diolah
ü  Sambel tanpa garam dikukus
ü  Buah-buahan 5
ü  Godoh tumpi 8
ü  Tatebus 8
ü  Porosan 8


1.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT SADWARA
Tungleh
Ø  Suka berbohong
Ø  Suka membuat malu
Ø  Tidak baik menanam tanaman yang menghasilkan daun
Aryang
Ø  Sering lupa
Ø  Baik membuat racun
Ø  Jangan berburu mencari ikan
Ø  Tidak baik menjadi tukang rumah
Urukung
Ø  Sering lengah
Ø  Baik jadi pemburu tapi jangan merusak hutan
Paniron
Ø  Tahu tata susila
Ø  Hormat
Ø  Baik menjadi pengail
Was
Ø  Berlagak
Ø  Baik mencari burung di hutan
Mahulu
Ø  Pemarah
Ø  Baik menjadi petani
Ø  Tidak baik menanam pohon buah-buahan yang berbiji

2.     TABIAT ANAK YANG LAHIR MENURUT PRATITI
Tresna
Ø  Murah hati, karena itu ia sering kekurangan
Ø  Suka mengganggu
Ø  Kurang sopan
Ø  Tidak mempunyai pengikut
Ø  Tidak mendapat kedudukan
Ø  Kalau meninggal pada Upadhana
Upadhana
Ø  Cukup mendapat kesenangan
Ø  Pemberani
Ø  Murah hati
Ø  Jujur
Ø  Kata-katanya menyenangkan hati
Ø  Mudah mendapat pekerjaan
Ø  Kalau meninggal pada Bhawa
Bhawa
Ø  Pemberani
Ø  Hingga tua bergaul dengan kaum keluarganya
Ø  Sering mendapat kesushan karena angkara
Ø  Tidak tetap pendirian
Ø  Mempunyai perasaan hati yang gagah
Ø  Kalau meninggal dunia pada Jati
Jati
Ø  Pemberani
Ø  Dicintai oleh tuannya
Ø  Apa yang dikatakannya demekian diperbuatnya
Ø  Banyak orang yang cinta karena jujur
Ø  Lahir dan bathin baik
Ø  Kalau meninggal pada Jaramarana

Jaramarana
Ø  Pandai
Ø  Suka marah
Ø  Pemberani
Ø  Dicintai oleh keluarganya
Ø  Kemana pergi sering mendapat susah
Ø  Kalau meninggal pada Awidhya
Awidhya
Ø  Mendapat kesenangan
Ø   Panjang umur
Ø  Kadang menderita buruk tetapi lekas baik
Ø  Segala yang dikerjakannya baik
Ø  Kalau meninggal pada Samskara
Samskara
Ø  Panjang umur
Ø  Kaya
Ø  Banyak mempunyai sahabat
Ø  Sering menderita kesusahan
Ø  Kalau meninggal dunia pada Widnyana
Widnyana
Ø  Panjang umur
Ø  Dicintai oleh pandita
Ø  Berhati iri
Ø  Berhati cinta kasih
Ø  Pemberani
Ø  Tidak pemarah
      Ø  Apa yang dicita-citai mudah tercapai 
      Ø  Kalau meninggal pada Namarupa
Namarupa
Ø  Selamat
Ø  Pandai bekerja
Ø  Jarang sakit
Ø  Banyak mempunyai musuh karena suka menyusahkan orang lain
Ø  Bisa jadi orang kaya
Ø  Kalau meninggal dunia pada Sadayatana
Sadayatana
Ø  Suka berdebat
Ø  Pandai berbicara
Ø  Mempunyai cita-cita
Ø  Kemana pergi mendapat selamat
Ø  Jauh daripada penyakit
Ø  Kalau meninggal dunia pada Sparsa
Sparsa
Ø  Selamat
Ø  Suka berbantah
Ø  Iri
Ø  Bisa kaya
Ø  Mempunyai pandangan luas
Ø  Kalau meninggal pada Wedhana
Wedhana
Ø  Kaya
Ø  Akhli bangunan
Ø  Tingkah lakunya sopan santun
Ø  Bersih
Ø  Suka beramal
Ø  Kasih sayang kepada sesamanya
Ø  Kalau meninggal pada Tresna


1.     MENDIRIKAN BANGUNAN MENURUT SASIH
       I.            Shrawana        : Gedung
    II.            Bhadrapada     : Dapur
 III.            Asuji                : Kubu
 IV.            Kartika                        : Balai
    V.            Margasirsa       : Balai mujur
 VI.            Pausya             : Lumbung
VII.            Magha             : Pondok sawah
VIII.            Phalguna         : Tempat ketungan
 IX.            Cetra               : Pintu halaman
    X.            Waisyaka         : Kahyangan
 XI.            Jyestha                        : Taban
XII.            Ashada                        : Tempat lesung

12.MEMBUAT PINTU HALAMAN MENURUT UKURAN DIBAGI 5 DAN 9
Yang diukur tembok yang di tempati atau dipakai pintu. Kalau tempat pintu :
·         Di Timur, tembok itu diukur dari Timur Laut ke Tenggara
·         Di Selatan, tembok itu diukur dari Tenggara ke Barat Daya
·         Di Barat, tembok itu diukur dari Barat Daya ke Barat Laut
·         Di Utara, tembok itu diukur dari Barat Laut ke Timur Laut
Panjang ukuran itu lalu di bagi 5 atau 9 menurut kesukaan anda. Tiap-tiap bagian terdapat sebagai berikut :

Di bagi 5
       I.            Karta               : Sentosha
    II.            Karti                : Baik
 III.            Kala                 : Buruk
 IV.            Kali                 : Susah
    V.            Sangara           : Menderita
Di bagi 9
v  Pintu di Timur
       I.            Berputera
    II.            Sering susah
 III.            Buruk
 IV.            Pandai
    V.            Kematian
 VI.            Sentosha
VII.            Kaya
VIII.            Dicela
 IX.            Beruntung
v  Pintu di Selatan
       I.            Berdosa
    II.            Beristri
 III.            Mendapat pangan
 IV.            Tercapai cita-citanya
    V.            Sederhana
 VI.            Sering susah
VII.            Bimbang
VIII.            Sentosha
 IX.            Kecurian
v  Pintu di Barat
       I.            Sering Sakit
    II.            Kedatangan orang tua
 III.            Berputera
 IV.            Dikuasai oleh istri
    V.            Kecurian
 VI.            Beruntung
VII.            Sentosha
VIII.            Berdosa karena anak
 IX.            Miskin
v  Pintu di Utara
       I.            Mendapatkan uang yang tidak sah
    II.            Kaya
 III.            Berputera
 IV.            Dihormati sesama
    V.            Sering susah
 VI.            Kaya
VII.            Kaya karena istri
VIII.            Susah karena orang lain
 IX.            Sering susah

13.MENDIRIKAN BANGUNAN MENURUT SAPTAWARA & SANGAWARA
Saptawara :
·         Minggu            → Buruk
·         Senin               → Baik
·         Selasa              → Berbantah
·         Rabu                → Senang
·         Kamis              → Mendapat makan dan minum
·         Jumat               → Banyak orang cinta
·         Sabtu               → Sedih


Sangawara :
·         Dangu             → Buruk
·         Jangur              → Buruk
·         Gigis                → Sering sakit
·         Nohan             → Janda
·         Ogan               → Diganggu oleh leluhur
·         Erangan           → kedatangan pencuri
·         Urungan          → Tidak berputera
·         Tulus               → Utama
·         Dadi                → Tercapai maksudnya


14.AGNI RAWANA
Dilarang mengatapi bangunan :
hari
pinanggal
 Minggu
12
Senin
11
Selasa
10
Rabu
9
Kamis
8
Jumat
7
Sabtu
6
Menurut Pinanggal   : 2-4-8-11
Menurut Panglong    : 3-4-9-13

15.CATUR LABA
Menurut Pinanggal & Panglong
1        : Yang dikerjakan berhasil
2        : Senang dan tidak ada bahaya
3        : Yang dicari tidak dapat
4        : Tidak berhasil
5        : Dapat makan dan minum
6        : Tidak mendapat hadiah
7        : Sentosha
8        : Buruk
9        : Berbahaya sekali
10    : Sentosha
11    : Kemana pergi akan merasa senang
12    : Berakibat meninggal
13    : Sentosha dan senang
14    : Sengsara
15    : Dicintai orang

16.ALA AYUNING SASIH
       I.            Shrawana
Ø  Apabila kawin akan mempunyai keturunan
Ø  Bisa kaya
Ø  Dicintai  keluarga dan orang lain
Ø  Akhirnya miskin
Ø  Bernama “Tuwuh Turunan”
    II.            Bhadrapada
Ø  Mendapat senang
Ø  Panjang umur
Ø  Tidak mempunyai turunan mungkin minta anak
Ø  Sedih
Ø  Bernama “Tiwas”
 III.            Asuji
Ø  Mendapat kutuk
Ø  Sangat buruk
Ø  Bernama “Loba Corah”
 IV.            Kartika
Ø  Banyak berputera
Ø  Sentosha
Ø  Setia bersuami istri
Ø  Sama melakukan sadhu dharma
Ø  Bernama “Suka Sedhana”
    V.            Margasirsa
Ø  Mempunyai usaha dan mendapat rejeki
Ø  Tetapi sering bertengkar
Ø  Bernama “Menemui Rejeki”
 VI.            Pausya
Ø  Mendapat rejeki
Ø  Rumah tangga tidak tenang
Ø  Suka berbantah
Ø  Bernama “Bangga”
VII.            Magha
Ø  Amat buruk
Ø  Sering sakit
Ø  Bernama “Gering Anglayung
VIII.            Phalguna
Ø  Amat buruk
Ø  Menderita
Ø  Bernama “Embuh”
 IX.            Cetra
Ø  Amat buruk
Ø  Fitnah merajalela
Ø  Banyak orang sakit dan menderita
Ø  Bernama “Desti”
    X.            Waisyaka
Ø  Pemerintah bijaksana
Ø  Putera-puteri susila
Ø  Banyak orang merasa senang
Ø  Bernama “Prabhu Pradnyan”
 XI.            Jyestha
Ø  Sangat buruk
Ø  Banyak perselisihan
Ø  Yang dharma disangka adharma
Ø  Yang susila disangka dursila
Ø  Bernama “Sangara”
XII.            Ashada
Ø  Sangat buruk
Ø  Banyak perselisihan
Ø  Yang dharma disangka adharma
Ø  Yang susila disangka dursila
Ø  Bernama “Sangara”
 
17.AMERTA MASA
Bercocok tanam dan melakukan segala pekerjaan :
1.      Shrawana        Pinanggal 10
2.      Bhadrapada     Pinanggal 7
3.      Asuji                Pinanggal 9
4.      Kartika                        Pada Purnama
5.      Margasirsa       Pada Tilem
6.      Pausya             Pinanggal 8
7.      Magha             Pinanggal 13
8.      Phalguna         Pinanggal 2
9.      Cetra               Pinanggal 6
10.  Waisyaka         Pinanggal 4
11.  Jyestha             Pinanggal 5
12.  Ashada            Pinanggal 1
 
18.MENANAM PADI
Minggu            → Umanis       → Merakih
Senin               → Umanis       → Taulu
Selasa              → Umanis       → Uye
Rabu                → Umanis       → Julungwangi
Kamis              → Umanis       → Ugu
Jumat               → Umanis       → Langkir
Sabtu               → Umanis       → Watugunung

19.HARI-JAM MENANAM TANAMAN
Minggu
Tebu dan sejenisnya :
Baik jam          : 07.30, 12.00
Buruk jam       : 10.30, 15.00
Senin
Ubi Dan sejenisnya :
Baik jam          : 10.30, 15.00
Buruk jam       : 07.30, 12.00
Selasa
Bayam dan sejenisnya :
Baik jam          : 11.00, 15.00
Buruk jam       : 07.30, 12.00
Rabu
Mawar dan sejenisnya :
Baik jam          : 13.00, 15.00
Buruk jam       : 09.00, 10.30
Kamis
Padi dan sejenisnya :
Baik jam          : 11.00, 13.30
Buruk jam       : 09.30, 15.00

Jumat
Pisang dan sejenisnya :
Baik jam          : 07.30, 10.00
Buruk jam       : 12.00, 15.00
Sabtu
Kacang dan sejenisnya :
Baik jam          : 09.00, 11.00
Buruk jam       : 12.00, 15.00

20.PATI-PANTEN
Tidak baik melakukan pekerjaan yang besar :
1)      Eka                  → Sungsang    →Indra
2)      Dwi                 → Tambir        → Shri
3)      Tri                    → Kelawu       → Uma
4)      Catur               → Wariga        →Kala
5)      Panca               → Pahang       → Yama
6)      Sad                  → Bala            → Brahma
7)      Sapta               → Kulantir      → Rudra
8)      Astha               → Langkir       → Uma
9)      Nawa               → Uye            → Guru
10)  Dasha              → Sinta           → Rudra
Pinanggal dan panglong 10 dan jumat yang jatuh pada tilem disebut : Panten.
 
21.GUNTUR RUMAH
Untuk mendirikan bangunan atau rumah menurut Wuku dan Saptawara :
o   Landep                                    → Rabu
o   Taulu                           → Rabu
o   Medangsia                   → Kamis
o   Merakih                       → Kamis
o   Medangkungan           → Sabtu
o   Ugu                             → Sabtu

22.AMERTA YOGA WUKU
Untuk melakukan upacara Manusa Yadnya
o   Senin   →Keliwon      →Landep
o   Senin   →Umanis        → Taulu
o   Senin   →Wage           →Medangsia
o   Senin   → Keliwon     → Krulut
o   Senin   → Umanis       → Medangkungan
o   Senin   → Paing          → Menail
o   Senin   → Pon             → Ugu
o   Senin   →Wage           → Dukut

23.TUTUT MASIH
Mengajar sapi, kerbau, kuda :
o   Kamis  → Umanis       → Shinta
o   Senin   → Paing          → Ukir
o   Senin   → Wage          → Julungwangi
o   Selasa  → Paing          → Sungsang
o   Senin   → Keliwon     → Kuningan
o   Selasa  → Pon             → Langkir
o   Rabu    → Pon             → Pujut
o   Jumat   → Paing          → Pahang
o   Kamis  → Keliwon     → Merakih
o   Selasa  → Keliwon     → Tambir
o   Sabtu   → Pon             → Matal
o   Selasa  → Keliwon     → Prangbakat
o   Jumat   → Wage          → Wayang
 
24.AMERTA DEWA
Untuk melakukan upacara Dewa Yadnya :
Sapta Wara
Pinanggal
Minggu
6
Senin
7
Selasa
3
Rabu
2
Kamis
5
Jumat
1
Sabtu
4


25.AMERTA GATI
Untuk memulai suatu pekerjaan :
Hari
Pinanggal/Panglong
Selasa
2, 3, 5
Kamis
2
Jumat
1


26.SUBHA CARA
Untuk memulai belajar ilmu pengetahuan :
Hari
Pinanggal/Panglong
Senin
3
Selasa
7, 8
Rabu
2, 3, 6
Kamis
5, 6
Jumat
2, 4

27.SEDHANA YOGA
Untuk memulai berdagang :
Sapta Wara
Pinanggal/Panglong
Minggu
8
Senin
3
Selasa
7
Rabu
2
Kamis
4
Jumat
6
Sabtu
5


28.PACEKAN
Untuk memulai bekerja di sawah atau di lading :
Sapta Wara
Pinanggal/Panglong
Minggu
12, 15
Senin
11, 15
Selasa
10, 15
Rabu
9, 15
Kamis
8, 15
Jumat
7, 15
Sabtu
6, 15
Membuat bulih atau mulai menanam hari Kajeng → Mahulu

29.DADIG KARANA
Hari yang dipandang buruk :
Sapta Wara
Pinanggal/Panglong
Minggu
2
Senin
1
Selasa
10
Rabu
7
Kamis
6
Jumat
2, 7
Sabtu
-

30.JAM MATINYA SAPTAWARA
Sapta Wara
Jam
Minggu
09.00
Senin
09.00
Selasa
10.00
Rabu
12.00
Kamis
09.00
Jumat
09.00
Sabtu
10.00

31.MENCARI REJEKI, MENURUT SAPTAWARA
Minggu            : Timur, Selatan           → Hidup
                          Utara                                     → Sakit
                          Barat                         → Mati
Senin               : Selatan                      → Hidup
                          Timur, Barat              → Sakit
                          Utara                         → Mati
Selasa              : Utara                         → Hidup
                          Timur, Selatan           → Sakit
                          Barat                         → Mati
Rabu                : Utara, Timur              → Hidup
                          Barat                         → Sakit
                          Selatan                      → Mati
Kamis              : Timur, Selatan           → Hidup
                          Barat                         → Sakit
                          Utara                         → Mati
Jumat               : Utara                         → Hidup
                          Timur, Barat              → Sakit
                          Selatan                      → Mati
Sabtu               : Barat                         → Hidup
                          Selatan, Timur           → Sakit
                          Utara                         → Mati


32.POTONG RAMBUT
Ø  Hari Senin dan Rabu
Ø  Hari Kamis → Wage pinanggal 1
Ø  Sasih Shrawana pinanggal 1

33.UPACARA BAYI
Agar usianya lanjut :
Ø  Rabu → Pon pinanggal 10

34.UPACARA DEWA YADNYA
Agar usia lanjut dan merasa senang :
Ø  Rabu → Wage pinanggal 10

35.PAWIWAHAN
Agar rukun dan merasa senang :
Ø  Senin → Wage pinanggal 1


36.WERDHI LINGGIH
Upacara memuja leluhur :
Ø  Rabu    → Umanis pinanggal 9

37.GAGAK ANUNGSUNG PATI
Tidak baik melakukan upacara membakar mayat (mengabukan) :
Ø  Tiap-tiap pinanggal 9

38.INGKEL HARIMAU
Untuk menangkap sapi, kerbau, kuda dan sebagainya :
Ø  Kamis → Pon → Warige

39.CORONG KODONG
Membuat jaring :
Ø  Kamis → Keliwon →Langkir

40.WAS
Mengebiri Hewan :
Ø  Beteng, Was

41.KARNA SULA
Dilarang mendirikan bangunan/rumah :
Hari
Pinanggal/Panglong
Minggu
12
Senin
11
Kamis
9
 
42.RARUNG PAGELANGAN
Tidak baik melakukan upacara Manusa Yadnya :
Ø  Kamis pinanggal/panglong 6

43.PAGER WESI
Untuk membuat tembok pembatas/penyengker :
Ø  Jumat → Paing pinanggal 3

44.TARU NGADEG
Menebang kayu untuk bahan bangunan :
Ø  Was Guru

45.ATIWA-ATIWA (Mengabukan Jenazah)
Agar suci dan sentosa :
Ø  Kamis → Keliwon pinanggal 11
Ø  Apratiwa                     : Waya membakar, Bhyantara menganyut
Ø  Tandang Manteri         : Bhyantara membakar, patut sehari itu menganyut
Ø  Tumandang Manteri    : Bhyantara membakar, lalu nganyut dan lalu mengerorasin.  Itu madya utama
Dilarang atiwa-atiwa, menyebabkan leluhur tidak suci dan sentosha :
Ø  Pinanggal 9
Ø  Panglong 1, 6, 14

46.GRAHA AYU
Mulai menempati rumah :
Ø  Tiap-tiap Rabu → Keliwon
 
47.SEDHANA TIBA
Melakukan upacara Pitra dan Dewa di Sanggah, Ibu/Pemerajan :
Ø  Kasmis→Wage pinanggal 7

48.SHRI MURTI
Upacara padi di lumbung :
Ø  Tiap-tiap Beteng, Shri

49.PANCA AMERTA
Untuk hari nikah :
Ø  Rabu→Paing pinanggal 5

50.MEMBUAT ALAT-ALAT DAN SENJATA DARI BESI
Ø  Aryang, Brahma

51.SEMUT SEDULUR
Tidak baik menguburkan jenazah :
Ø  Jumat   →Pon
Ø  Sabtu   →Umanis
Ø  Minggu→Keliwon

52.KALA GOTONGAN
Tidak baik menguburkan jenazah :
Ø  Jumat   →Keliwon
Ø  Sabtu   →Umanis
Ø  Minggu→Paing
 
53.KALA CAPLOKAN
Membuat kail :
Ø  Senin→Paing→Merakih

54.KALA ATAT
Membuat tali atau menganyam :
Ø  Rabu→Pon→Watugunung
Ø   
55.KALA CEPITAN
Membuat perangkap :
Ø  Senin→Paing→Merakih

56.KALA MANGAP
Menyebabkan boros :
Ø  Tiap-tiap Minggu Umanis

57.KALA NGERUDA
Jangan mengerjakan pekerjaan yang penting-penting :
Ø  Senin   → Umanis       → Sungsang
Ø  Senin   → Paing          → Menail
Ø  Minggu→ Pon                        → Dukut


58.KALA MANGAP
Baik membuat likah, jaring atau jala, tetapi tidak baik melakukan upacara Manusa Yadnya :
Sapatwara
Pancawara
Wuku
Senin
Pon
Ugu
Selasa
Keliwon
Tambir
Rabu
Keliwon
Gumreg
-
Paing
Kuningan
Jumat
Wage
Uye
Sabtu
Wage
Julungwangi
-
Umanis
Pujut


59.KALA DANGASTRA
Tidak baik melakukan segala pekerjaan :
Hari
Pinanggal
Panglong
Minggu
12

Senin
11

Selasa
10

Rabu
9

Kamis
8

Jumat
7

Sabtu
6

Jumat

7
Sabtu

6




60.KALA MERTYU
Hari yang berbahaya, jangan dilanggar :
Saptawara
Pancawara
Wuku
Minggu
Keliwon
Medangkungan
Selasa
Umanis
Wayang
Rabu
Keliwon
Shinta
Kamis
Wage
Taulu
Jumat
Keliwon
Pujut
Sabtu
Wage
Medangsia


61.KALA KECIRAN
Membuat pengiris dan taji :
Hari
Pinanggal
Minggu
2, 4
Senin
10
Selasa
10
Rabu
7
Kamis
6
Jumat
2
Sabtu
8


62.KALA NGADEG
Membuat pintu dan sangkar :
Saptawara
Pancawara
Wuku
Minggu
Wage
Krulut
Selasa
Wage
Dungulan
Rabu
Paing
Kuningan
Jumat
Keliwon
Watugunung
63.KALA MUNCRAT
Membuat taji, keris dan tombak :
Ø  Senin   → Paing          → Merakih

64.KALA KILANG-KILUNG
Baik untuk menganyam :
Ø  Kamis  → Paing          → Tambir

65.KALA KATEMU
Baik untuk mengadakan rapat atau mencari burung perkutut di hutan :
Pinanggal
Asthawara
2
Shri
3
Uma
4
Kala
6
Brahma
7
Rudra
8
Yama
9
Guru


66.KALA JENGKANG
Mengadakan sabungan ayam :
Ø  Minggu→ Umanis→ Ukir

67.KALA GEGER
Membuat kentongan :
Ø  Kamis→ Pon→ Wariga


68.KALA TIMPANG
Membuat ranjau :
Ø  Jumat→ Pon→ Medangsia

69.KALA JANGKUT
Membuat jaring/jala :
Ø  Tiapa-tiap Pepet, Kajeng

70.KALA UPA
Mulai memelihara hewan:
Ø  Tiap-tiap Pasah, Paniron

71.KALA GUMARANG
Hari yang berhati-hati :
Saptawara
Wuku
Minggu
Prangbakat
Jumat
Kulantir, Tambir
Rabu
Pujut, Watugunung


72.KALA NANGGUNG
Jangan ragu-ragu dan patut waspada :
Saptawara
Pancawara
Minggu
Pon
Senin
Paing
Rabu
Umanis
Sabtu
Wage


73.KALA SUDUKAN
Jangan memindahkan orang sakit pada hari ini :
§  Minggu, Pond an Rabu, Umanis         → Timur dan Barat
§  Senin, Paing dan Sabtu, Wage            → Utara dan Selatan